
Ilustrasi. [Source: Unsplash]
Bagian dari Learning Module for Lawyers › Corporate Law › Modul 1 › Bab 3 Environmental, Social, and Governance (ESG) dan Dampaknya terhadap Keputusan Korporasi
Pragmaintegra.com – Dalam tata kelola perusahaan kontemporer, integrasi kriteria Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG) ke dalam praktik bisnis telah menjadi hal yang penting. Para profesional hukum harus menavigasi lanskap yang kompleks ini untuk memastikan kepatuhan, mengurangi risiko, dan memanfaatkan peluang yang disajikan oleh lingkungan regulasi yang terus berkembang. Bagian ini menguraikan integrasi kerangka ESG, dengan menekankan pengembangan strategis, pengawasan dewan, penilaian risiko, dan pelaporan, ditambah dengan keterlibatan pemangku kepentingan, manajemen rantai pasokan, dan pertimbangan investasi. Perkembangan hukum terbaru dan praktik terbaik dari berbagai yurisdiksi juga diperiksa.
Pendahuluan
Pengembangan Strategi ESG
Proses Pengembangan Strategi ESG
Menciptakan strategi ESG yang efektif memerlukan pendekatan terstruktur yang selaras dengan tujuan korporasi organisasi secara keseluruhan. Pada awalnya, analisis pemangku kepentingan yang komprehensif harus dilakukan untuk memahami harapan dan kekhawatiran berbagai pihak seperti investor, pelanggan, dan badan pengatur.[1] Setelah identifikasi pemangku kepentingan yang relevan, organisasi harus menetapkan tujuan ESG yang jelas yang sesuai dengan misi dan visinya. Integrasi tujuan-tujuan ini ke dalam kerangka tata kelola perusahaan sangatlah penting; pendekatan yang terfokus membantu dalam mempertahankan keunggulan kompetitif di tengah tekanan keberlanjutan yang meningkat.[2]
Komponen Utama Strategi ESG yang Efektif
Strategi ESG yang efektif terdiri dari berbagai komponen utama: komitmen kepemimpinan, alokasi sumber daya, dan keterlibatan pemangku kepentingan. Kepemimpinan harus menunjukkan komitmen terhadap prinsip-prinsip ESG melalui inisiatif strategis dan deklarasi publik.[3] Selain itu, alokasi sumber daya yang memadai untuk pelaksanaan proyek ESG sangat penting bagi keberhasilannya. Pelatihan dan kesadaran secara teratur meningkatkan kapasitas organisasi untuk memprioritaskan kekhawatiran ESG secara efektif.
Integrasi dengan Strategi Bisnis Keseluruhan
Mengintegrasikan strategi ESG ke dalam strategi bisnis yang lebih luas melibatkan penyelarasan tujuan ESG dengan tujuan operasional. Integrasi ini memperkuat konsep bahwa keberlanjutan jangka panjang dapat menghasilkan kinerja keuangan. Misalnya, mengadopsi teknologi hijau tidak hanya mengurangi jejak lingkungan tetapi juga dapat mendorong efisiensi operasional dan pengurangan biaya.[4] Perusahaan semakin menyadari bahwa faktor ESG adalah metrik kinerja keuangan itu sendiri, yang memengaruhi prioritas strategis dan keputusan investasi.
Metodologi untuk Penilaian Materialitas ESG
Melakukan penilaian materialitas sangat penting untuk mengidentifikasi masalah ESG mana yang secara signifikan memengaruhi bisnis dan pemangku kepentingan. Berbagai metodologi ada, termasuk survei keterlibatan pemangku kepentingan dan pembandingan keberlanjutan (benchmarking).[5] Penilaian ini memandu perusahaan dalam memprioritaskan masalah ESG mereka berdasarkan potensi risiko bisnis dan dampak pemangku kepentingan, menciptakan pendekatan keberlanjutan yang selaras di seluruh tingkat organisasi.
Mekanisme Pengawasan Dewan
Struktur Komite Dewan untuk Pengawasan ESG
Pengawasan ESG yang tepat di tingkat dewan sangat penting untuk tata kelola perusahaan yang efektif. Banyak organisasi membentuk komite ESG khusus yang mengawasi inisiatif keberlanjutan dan memantau kepatuhan terhadap kerangka ESG.[6] Komite-komite ini biasanya mencakup anggota dengan latar belakang yang beragam di bidang keuangan, kebijakan lingkungan, dan tata kelola sosial, memastikan perspektif holistik pada masalah ESG.
Tanggung Jawab dan Kompetensi Direktur
Direktur memiliki tanggung jawab fidusia (fiduciary responsibility) untuk menilai bagaimana strategi ESG memengaruhi kinerja perusahaan. Mereka harus memiliki kompetensi dalam mengevaluasi risiko ESG, memahami persyaratan peraturan, dan memastikan keselarasan dengan kepentingan pemangku kepentingan.[7] Kompetensi ini termasuk keakraban dengan kerangka hukum yang ada seperti Prinsip-prinsip Investasi Bertanggung Jawab PBB (United Nations Principles for Responsible Investment/UNPRI) dan pelaporan keberlanjutan perusahaan.[8]
Mengintegrasikan ESG ke dalam Proses Pengambilan Keputusan Dewan
Mengintegrasikan ESG ke dalam pengambilan keputusan dewan melibatkan evaluasi sistematis faktor ESG dalam diskusi strategis. Misalnya, dewan dapat menilai potensi dampak litigasi atas kerusakan lingkungan saat mempertimbangkan ekspansi atau investasi baru.[9] Memasukkan ESG ke dalam strategi perusahaan menuntut kerangka kerja yang menangkap metrik ESG sebagai komponen integral dari perencanaan keuangan dan pengambilan keputusan operasional.
Implikasi Hukum dari Kegagalan Pengawasan ESG oleh Dewan
Mengabaikan pengawasan ESG dapat mengakibatkan konsekuensi hukum yang signifikan, terutama karena regulator memberlakukan persyaratan kepatuhan yang lebih ketat. Perkembangan regulasi terbaru mewajibkan peningkatan pengungkapan risiko ESG, dan anggota dewan dapat dimintai pertanggungjawaban karena gagal mengelola risiko ini secara memadai.[10] Misalnya, perusahaan yang salah merepresentasikan komitmen ESG mereka menghadapi penalti, sehingga mendorong dewan untuk mengadopsi praktik pengawasan ESG yang lebih ketat.[11]
Kerangka Penilaian Risiko ESG
Metodologi Utama Penilaian Risiko ESG
Membangun kerangka penilaian risiko yang kuat sangat penting bagi organisasi yang bertujuan untuk mengatasi tantangan ESG secara efektif. Metodologi umum termasuk manajemen risiko perusahaan (enterprise risk management/ERM) dan analisis skenario, yang memungkinkan perusahaan untuk mengantisipasi dan mengurangi risiko ESG secara proaktif.[12] Menerapkan kerangka ini membantu memperjelas potensi dampak berbagai dimensi ESG pada kinerja keuangan dan reputasi.
Integrasi dengan Manajemen Risiko Perusahaan
Mengintegrasikan pertimbangan ESG dalam kerangka ERM yang lebih luas adalah langkah penting untuk meningkatkan ketahanan perusahaan terhadap ancaman terkait keberlanjutan.[13] Ini berarti mengevaluasi bagaimana faktor ESG berkaitan dengan risiko keuangan tradisional dan memperkuat mekanisme pelaporan untuk mencerminkan integrasi ini secara akurat. Menerapkan pendekatan seperti itu mempromosikan transparansi risiko dan akuntabilitas, yang semakin dituntut oleh investor dan badan pengatur.[14]
Pertimbangan Risiko Spesifik Sektor
Industri yang berbeda menghadapi risiko ESG unik yang memerlukan pendekatan khusus untuk penilaian risiko. Misalnya, sektor minyak dan gas harus memprioritaskan kepatuhan lingkungan dan dampak komunitas, sementara sektor teknologi mungkin lebih fokus pada privasi data dan penggunaan etis kecerdasan buatan.[15] Pendekatan yang spesifik sektor memfasilitasi identifikasi risiko ESG material dan membantu menyelaraskan respons strategis secara efektif.
Kerangka Hukum untuk Pengungkapan Risiko ESG
Kerangka hukum yang muncul menekankan pentingnya mengungkapkan risiko ESG, dengan regulasi seperti Peraturan Pengungkapan Keuangan Berkelanjutan Uni Eropa (European Union’s Sustainable Finance Disclosure Regulation/SFDR) yang mewajibkan pengungkapan substansial dampak keberlanjutan oleh perusahaan keuangan.[16] Ketidakpatuhan terhadap standar peraturan ini tidak hanya berisiko mendapatkan penalti finansial tetapi juga memiliki implikasi terhadap kepercayaan investor dan reputasi perusahaan.
Metrik Kinerja dan KPI
Mengembangkan Metrik ESG yang Bermakna
Menyusun metrik ESG yang relevan melibatkan pemilihan indikator yang secara akurat mencerminkan komitmen organisasi terhadap praktik keberlanjutan dan tata kelola. Metrik ini harus selaras dengan kerangka kerja yang mapan seperti Global Reporting Initiative (GRI) dan Sustainability Accounting Standards Board (SASB).[17] Menetapkan metrik yang dapat diukur membantu mendorong akuntabilitas dan memfasilitasi komunikasi transparan dengan pemangku kepentingan.
Standar dan Tolok Ukur Industri
Mengadopsi tolok ukur industri yang diakui memungkinkan perusahaan untuk membandingkan kinerja mereka dengan rekan dan pemimpin industri. Perbandingan seperti itu mengungkap area untuk perbaikan dan mempromosikan budaya peningkatan ESG yang berkelanjutan.[18] Perusahaan semakin memanfaatkan peringkat ESG dari lembaga independen untuk memposisikan diri mereka secara menguntungkan di mata investor dan konsumen.
Metode Pengumpulan dan Verifikasi Data
Memastikan keandalan proses pengumpulan data ESG sangat penting bagi bisnis. Menggunakan metodologi yang transparan dan verifikasi pihak ketiga independen meningkatkan kredibilitas data yang dilaporkan.[19] Perusahaan didorong untuk melibatkan auditor eksternal untuk memastikan integritas data dan kesesuaian dengan standar pelaporan.
Persyaratan Hukum untuk Pelacakan Kinerja
Kerangka hukum sering kali menuntut organisasi untuk melaporkan kinerja mereka terkait inisiatif keberlanjutan. Misalnya, adopsi Direktif Pelaporan Keberlanjutan Perusahaan (Corporate Sustainability Reporting Directive/CSRD) di UE mengharuskan perusahaan untuk mengungkapkan kinerja ESG mereka secara komprehensif.[20] Kegagalan untuk mematuhi persyaratan hukum ini membuat perusahaan terkena risiko reputasi dan keuangan yang signifikan.
Standar Pelaporan
Kerangka Pelaporan ESG Utama
Lanskap pelaporan ESG didefinisikan oleh beberapa kerangka kerja, termasuk GRI, SASB, dan TCFD. Perusahaan menggunakan kerangka kerja ini untuk mengungkapkan kinerja ESG mereka secara sistematis dan konsisten.[21] Setiap kerangka memberikan pedoman yang disesuaikan dengan kebutuhan pemangku kepentingan yang berbeda; oleh karena itu, perusahaan harus memilih kerangka yang sesuai yang selaras dengan tujuan strategis mereka.
Persyaratan Pelaporan Yurisdiksional
Perbedaan yurisdiksional dalam kewajiban pelaporan ESG mengharuskan perusahaan untuk tetap mengikuti standar lokal dan internasional. Misalnya, UE mewajibkan pengungkapan terkait keberlanjutan yang lebih ketat untuk perusahaan publik besar, sementara wilayah lain mungkin tidak memiliki legislasi komprehensif.[22] Memahami nuansa peraturan ini sangat penting bagi pengacara perusahaan yang memberi saran kepada klien mereka tentang strategi kepatuhan.
Analisis Komparatif Kewajiban Pelaporan
Membandingkan kewajiban pelaporan ESG di seluruh yurisdiksi mengungkapkan perbedaan signifikan yang dapat mempersulit operasi lintas batas. Profesional hukum harus menyadari perbedaan ini untuk menyusun strategi secara efektif untuk kepatuhan dan pelaporan.[23] Misalnya, sementara AS terutama bergantung pada pengungkapan sukarela, UE menekankan peraturan wajib, yang memerlukan langkah-langkah proaktif bagi perusahaan internasional.
Kewajiban Hukum Terkait Pengungkapan ESG
Konsekuensi hukum yang terkait dengan pengungkapan ESG menekankan perlunya akurasi dan kelengkapan dalam pelaporan. Perusahaan dapat menghadapi litigasi jika pemangku kepentingan menganggap bahwa klaim ESG salah merepresentasikan praktik aktual atau dianggap menyesatkan.[24] Akibatnya, profesional hukum harus memastikan bahwa klien mereka mengembangkan kebijakan pengungkapan yang kuat yang mematuhi standar hukum sambil mengelola risiko reputasi.
Baca juga: Memahami Teori Pemangku Kepentingan (Stakeholder Theory) dalam Tata Kelola Perusahaan
Keterlibatan Pemangku Kepentingan
Kerangka Hukum untuk Keterlibatan Pemangku Kepentingan
Keterlibatan pemangku kepentingan yang efektif sangat penting untuk menumbuhkan transparansi dan kepercayaan dalam perusahaan. Beberapa kerangka hukum memandu proses ini, termasuk Pedoman OECD untuk Perusahaan Multinasional (OECD Guidelines for Multinational Enterprises).[25] Kepatuhan terhadap pedoman ini mempromosikan komunikasi efektif, memasukkan umpan balik, dan membantu mengidentifikasi kekhawatiran pemangku kepentingan secara proaktif.
Praktik Terbaik untuk Keterlibatan Investor dan Komunitas
Organisasi harus secara proaktif melibatkan investor dan pemangku kepentingan komunitas melalui dialog terbuka, pertemuan rutin, dan pelaporan transparan.[26] Keterlibatan proaktif ini memfasilitasi pemahaman yang lebih dalam tentang harapan pemangku kepentingan, menyelaraskan strategi perusahaan dengan nilai-nilai komunitas, dan meningkatkan reputasi perusahaan secara keseluruhan.
Mengelola Permintaan Pemangku Kepentingan yang Bertentangan
Menyeimbangkan kepentingan pemangku kepentingan yang berbeda bisa menjadi kompleks. Profesional hukum harus membimbing perusahaan dalam menavigasi konflik ini dalam kerangka hukum sambil memastikan bahwa perspektif pemangku kepentingan tetap terintegrasi ke dalam proses tata kelola.[27] Menerapkan strategi komunikasi yang efektif dan keterampilan negosiasi dapat mendorong solusi kolaboratif.
Pengungkapan Proses Keterlibatan Pemangku Kepentingan
Transparansi dalam proses keterlibatan pemangku kepentingan sangat penting untuk membangun kepercayaan. Perusahaan harus mengungkapkan bagaimana pandangan pemangku kepentingan memengaruhi strategi ESG dan pengambilan keputusan, menyoroti daya tanggap mereka.[28] Transparansi ini memastikan bahwa pemangku kepentingan merasa dihargai dan meningkatkan kredibilitas perusahaan secara keseluruhan.
Manajemen ESG Rantai Pasokan
Kerangka Hukum untuk Uji Tuntas Rantai Pasokan
Karena risiko ESG semakin banyak muncul dalam rantai pasokan, kerangka hukum yang mengatur uji tuntas rantai pasokan (supply chain due diligence) menjadi kritis. Regulasi, seperti Undang-Undang Perbudakan Modern Inggris (UK Modern Slavery Act), mewajibkan perusahaan untuk menilai dan melaporkan praktik rantai pasokan mereka secara sistematis.[29] Kepatuhan terhadap regulasi tersebut memerlukan kerangka kerja yang memastikan sumber yang etis dan praktik ketenagakerjaan.
Mekanisme Kontraktual untuk Kepatuhan ESG
Mengintegrasikan kepatuhan ESG ke dalam kontrak pemasok sangat penting untuk mengelola risiko di seluruh rantai pasokan. Menambahkan klausul spesifik mengenai tujuan keberlanjutan dan praktik ketenagakerjaan membantu menegakkan komitmen ESG.[30] Pendekatan kontraktual ini memfasilitasi akuntabilitas sambil menumbuhkan budaya praktik bisnis yang bertanggung jawab di seluruh rantai pasokan.
Tantangan Lintas Yurisdiksi
Mengelola kepatuhan ESG dalam rantai pasokan global yang semakin meningkat menghadirkan tantangan unik. Perusahaan harus menavigasi beragam lingkungan regulasi, yang memerlukan adaptasi lokal.[31] Profesional hukum harus membekali perusahaan dengan strategi komprehensif untuk mengatasi tantangan ini sambil memastikan kepatuhan terhadap berbagai kewajiban statutori.
Kewajiban untuk Kegagalan ESG Rantai Pasokan
Dalam lingkungan saat ini, perusahaan dapat dimintai pertanggungjawaban atas kegagalan ESG dalam rantai pasokan mereka. Kasus hukum mengilustrasikan bahwa perusahaan dapat menghadapi litigasi jika pemasok melanggar peraturan lingkungan atau hak buruh.[32] Perusahaan harus menerapkan mekanisme pemantauan dan penegakan yang kuat untuk mengurangi risiko terkait kepatuhan rantai pasokan.
Pertimbangan Investasi
Kewajiban Fidusia dalam Investasi ESG
Kerangka hukum memperkuat bahwa fidusia harus mempertimbangkan faktor ESG dalam strategi investasi mereka. Institusi semakin menyadari bahwa kinerja berkelanjutan jangka panjang dapat menghasilkan pengembalian yang lebih baik, mendorong evaluasi ulang kriteria investasi tradisional.[33] Perspektif hukum ini menekankan tugas kehati-hatian (duty of care) yang dimiliki fiduciary terhadap penerima manfaat mereka, memastikan pengambilan keputusan yang terinformasi.
Integrasi ESG dalam Keputusan Investasi
Mengintegrasikan data ESG ke dalam keputusan investasi meningkatkan ketahanan portofolio terhadap fluktuasi pasar. Misalnya, mengintegrasikan metrik keberlanjutan memungkinkan investor untuk membuat pilihan terinformasi yang selaras dengan nilai-nilai mereka.[34] Penasehat hukum harus memastikan kepatuhan dengan tanggung jawab fidusia sambil memasukkan pertimbangan ESG dalam strategi investasi.
Kerangka Hukum untuk Keuangan Berkelanjutan
Secara global, berbagai yurisdiksi memberlakukan kerangka untuk mempromosikan keuangan berkelanjutan. Regulasi seperti Taksonomi Keuangan Berkelanjutan UE (EU’s Sustainable Finance Taxonomy) bertujuan untuk mengarahkan investasi menuju pembangunan berkelanjutan.[35] Profesional hukum harus tetap terinformasi tentang kerangka kerja ini untuk membimbing organisasi dalam menyelaraskan praktik investasi mereka dengan ekspektasi regulasi.
Aktivisme Pemegang Saham Terkait ESG
Aktivisme pemegang saham yang berfokus pada isu ESG telah mendapatkan momentum dalam beberapa tahun terakhir. Investor semakin memanfaatkan pengaruh mereka untuk menuntut akuntabilitas, transparansi, dan perubahan dalam strategi perusahaan yang selaras dengan tujuan keberlanjutan.[36] Pengacara perusahaan harus memahami aspek hukum dari advokasi pemegang saham untuk mendukung klien mereka secara efektif dalam lanskap ini.
Pengukuran Dampak
Metodologi untuk Mengukur Dampak ESG
Organisasi harus mengadopsi metodologi yang ketat untuk mengukur dampak ESG mereka. Teknik seperti penilaian siklus hidup (life cycle assessments/LCA) dan penilaian dampak memungkinkan perusahaan untuk mengukur kontribusi keberlanjutan mereka secara komprehensif.[37] Dengan menunjukkan dampak mereka secara transparan, perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan dan keterlibatan pemangku kepentingan.
Standar Hukum untuk Klaim Dampak
Dukungan hukum terhadap klaim dampak harus selaras dengan standar yang ditetapkan untuk menghindari menyesatkan pemangku kepentingan. Regulasi dan kerangka kerja membimbing perusahaan tentang cara membuktikan narasi keberlanjutan mereka, memastikan kredibilitas.[38] Profesional hukum harus memberi saran kepada perusahaan tentang kepatuhan terhadap standar ini untuk mengurangi risiko klaim palsu.
Persyaratan Validasi Pihak Ketiga
Melibatkan validator pihak ketiga meningkatkan keandalan klaim dampak ESG. Auditor atau badan sertifikasi memberikan pengawasan yang tidak bias terhadap komunikasi, meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan.[39] Perusahaan yang mencari validasi pihak ketiga harus memilih penyedia terpercaya dengan kredensial yang mapan untuk memperkuat upaya transparansi mereka.
Menghindari Tuduhan Greenwashing
Greenwashing, atau kesalahan representasi klaim keberlanjutan, menghadirkan tantangan hukum yang signifikan. Perusahaan harus menavigasi garis tipis antara pemasaran dan praktik berkelanjutan yang sebenarnya untuk menghindari reaksi negatif dan konsekuensi hukum.[40] Nasihat hukum sangat penting dalam memberi saran kepada perusahaan tentang menjaga integritas dalam komunikasi mereka tentang inisiatif ESG.
Jaminan Pihak Ketiga
Kerangka Hukum untuk Jaminan ESG
Kebutuhan akan jaminan ESG semakin meningkat, dengan kerangka hukum yang muncul untuk menentukan keandalan pengungkapan ESG. Standar seperti ISAE 3000 memberikan pedoman untuk melakukan audit eksternal terhadap laporan ESG. Kepatuhan terhadap kerangka ini membangun kredibilitas dan membantu mengurangi risiko hukum.
Jenis Penyedia Jaminan dan Standar
Berbagai penyedia jaminan, termasuk perusahaan audit dan konsultan ESG khusus, menawarkan layanan unik yang disesuaikan dengan pelaporan ESG. Setiap penyedia dapat menerapkan standar yang berbeda berdasarkan keahlian dan kebutuhan klien mereka, memengaruhi proses jaminan. Perusahaan harus mengevaluasi opsi ini dengan hati-hati untuk memilih penyedia jaminan yang sesuai yang selaras dengan tujuan strategis mereka.
Ruang Lingkup dan Batasan Jaminan
Mendefinisikan ruang lingkup jaminan ESG sangat penting untuk menghindari kesalahan representasi. Perusahaan perlu memastikan bahwa layanan jaminan memberikan gambaran yang akurat tentang kinerja ESG mereka dan menangani potensi kesenjangan atau kelemahan yang teridentifikasi selama audit. Komunikasi yang jelas tentang batasan jaminan mendorong transparansi dan membantu mengelola harapan pemangku kepentingan.
Kewajiban Hukum dalam Hubungan Jaminan
Pertimbangan hukum seputar hubungan jaminan sangat penting. Penyedia jaminan mungkin menghadapi risiko kewajiban jika layanan mereka mengakibatkan ketidakakuratan yang tidak diungkapkan dalam laporan ESG. Perusahaan harus membangun hubungan kontraktual yang kuat dengan penyedia jaminan untuk menetapkan tanggung jawab yang jelas dan mengurangi kewajiban secara efektif.
Kesimpulan
Integrasi kerangka ESG ke dalam tata kelola perusahaan adalah proses yang kompleks dan terus berkembang yang memerlukan pengawasan hukum yang tajam. Karena perusahaan menghadapi tekanan regulasi dan harapan pemangku kepentingan yang semakin besar seputar keberlanjutan, pengacara perusahaan memainkan peran penting dalam membimbing organisasi menuju praktik tata kelola yang bertanggung jawab. Dari mengembangkan strategi ESG yang efektif dan memastikan pengawasan dewan hingga menavigasi tantangan kepatuhan dalam pelaporan dan keterlibatan pemangku kepentingan, persinggungan antara hukum dan keberlanjutan semakin penting. Dengan mengadopsi praktik terbaik, memperhatikan implikasi hukum, dan memanfaatkan mekanisme tata kelola yang menyeluruh, perusahaan dapat meningkatkan kinerja mereka sambil memenuhi kewajiban mereka kepada berbagai pemangku kepentingan.
*Artikel ini merupakan bagian dari ‘Learning Module for Lawyers: Corporate Law’ yang disusun oleh Tim Penulis Firma Pragma Integra.
Referensi
[1] Yana A Yunus and Sahabuddin Nanda, ‘Exploring Sustainable Finance: A Qualitative Inquiry Into Responsible Investment and ESG Risk Evaluation’, Golden Ratio of Finance Management, 4.1 (2024), pp. 1–13, https://doi.org/10.52970/grfm.v4i1.429.
[2] Simone Pizzi, Fabio Caputo, and Elbano d. Nuccio, ‘Do Sustainability Reporting Standards Affect Analysts’ Forecast Accuracy?’, Sustainability Accounting Management and Policy Journal, 15.2 (2024), pp. 330–54, https://doi.org/10.1108/sampj-04-2023-0227.
[3] Nakul Parameswar and others, ‘Exploring the Barriers to ESG Adoption Using Modified TISM Approach’, Kybernetes, 53.12 (2023), pp. 5775–800, https://doi.org/10.1108/k-05-2023-0888.
[4] Nicole Darnall and others, ‘Do ESG Reporting Guidelines and Verifications Enhance Firms’ Information Disclosure?’, Corporate Social Responsibility and Environmental Management, 29.5 (2022), pp. 1214–30, https://doi.org/10.1002/csr.2265.
[5] Le Luo and Qingliang Tang, ‘The Real Effects of ESG Reporting and GRI Standards on Carbon Mitigation: International Evidence’, Business Strategy and the Environment, 32.6 (2022), pp. 2985–3000, https://doi.org/10.1002/bse.3281.
[6] Giuliana Birindelli and others, ‘Composition and Activity of the Board of Directors: Impact on ESG Performance in the Banking System’, Sustainability, 10.12 (2018), p. 4699, https://doi.org/10.3390/su10124699.
[7] Gaurav Talan and Gagan D Sharma, ‘Doing Well by Doing Good: A Systematic Review and Research Agenda for Sustainable Investment’, Sustainability, 11.2 (2019), p. 353, https://doi.org/10.3390/su11020353.
[8] Armando Toscano, Melissa Balzarotti, and Ilaria Re, ‘Sustainability Practices and Greenwashing Risk in the Italian Poultry Sector: A Grounded Theory Study’, Sustainability, 14.21 (2022), p. 14088, https://doi.org/10.3390/su142114088.
[9] Salvatore Principale and Simone Pizzi, ‘The Determinants of TCFD Reporting: A Focus on the Italian Context’, Administrative Sciences, 13.2 (2023), p. 61, https://doi.org/10.3390/admsci13020061.
[10] Zbigniew Korzeb and others, ‘How Do ESG Challenges Affect Default Risk? An Empirical Analysis From the Global Banking Sector Perspective’, Studies in Economics and Finance, 42.1 (2024), pp. 89–114, https://doi.org/10.1108/sef-09-2023-0540.
[11] Herenia G Ponce, ‘Sustainability as a Strategy Base in Spanish Firms: Sustainability Reports and Performance on the Sustainable Development Goals’, Sustainable Development, 31.4 (2023), pp. 3008–23, https://doi.org/10.1002/sd.2566.
[12] Artie W Ng and others, ‘Disparities in ESG Reporting by Emerging Chinese Enterprises: Evidence From a Global Financial Center’, Sustainability Accounting Management and Policy Journal, 14.2 (2023), pp. 343–68, https://doi.org/10.1108/sampj-08-2021-0323.
[13] Wesley Friske, Atanas N Nikolov, and Todd Morgan, ‘Making the Grade: An Analysis of Sustainability Reporting Standards and Global Reporting Initiative Adherence Ratings’, Corporate Social Responsibility and Environmental Management, 31.3 (2023), pp. 2098–108, https://doi.org/10.1002/csr.2686.
[14] Shuyue Chen, ‘The Influence of Artificial Intelligence and Digital Technology on ESG Reporting Quality’, Ijgem, 3.1 (2024), pp. 301–10, https://doi.org/10.62051/ijgem.v3n1.36.
[15] Nikolaos Kakogiannis and others, ‘A Novel ESG Materiality Methodology Combining Criterion Level and Sector-Based Approaches.’, Technical Annals, 1.2 (2023), https://doi.org/10.12681/ta.34099.
[16] Mohammad A Zaid and Ayman Issa, ‘A Roadmap for Triggering the Convergence of Global ESG Disclosure Standards: Lessons From the IFRS Foundation and Stakeholder Engagement’, Corporate Governance, 23.7 (2023), pp. 1648–69, https://doi.org/10.1108/cg-09-2022-0399.
[17] Eun S Park and others, ‘Study on the Global Sustainability of the Korean Construction Industry Based on the GRI Standards’, International Journal of Environmental Research and Public Health, 20.5 (2023), p. 4231, https://doi.org/10.3390/ijerph20054231.
[18] Jie M Zhang and Olga P Nedospasova, ‘ESG Disclosure Standards: International and Chinese Case Studies’, Sibirskaya Finansovaya Shkola, 2024, pp. 116–22, https://doi.org/10.34020/1993-4386-2024-1-116-122.
[19] Maria Aparecida Hess Loures Paranhos, Irenilza d. A Nääs, and Pedro Luiz de Oliveira Costa Neto, ‘Evolution and Challenges of Environmental, Social, and Governance Practices: An Analysis of the Brazilian Stock Exchange’s Corporate Sustainability Index’, Sustainability, 16.15 (2024), p. 6531, https://doi.org/10.3390/su16156531.
[20] Ester Clementino and Richard Perkins, ‘How Do Companies Respond to Environmental, Social and Governance (ESG) Ratings? Evidence From Italy’, Journal of Business Ethics, 171.2 (2020), pp. 379–97, https://doi.org/10.1007/s10551-020-04441-4.
[21] Patrick Velte, ‘The Bidirectional Relationship Between ESG Performance and Earnings Management – Empirical Evidence From Germany’, Journal of Global Responsibility, 10.4 (2019), pp. 322–38, https://doi.org/10.1108/jgr-01-2019-0001.
[22] Michael Bretthauer and others, ‘Reporting Systems in Gastrointestinal Endoscopy: Requirements and Standards Facilitating Quality Improvement: European Society of Gastrointestinal Endoscopy Position Statement’, United European Gastroenterology Journal, 4.2 (2016), pp. 172–76, https://doi.org/10.1177/2050640616629079.
[23] Aanchal Singh, Prakash Singh, and Samik Shome, ‘ESG–CFP Linkages: A Review of Its Antecedents and Scope for Future Research’, Indian Journal of Corporate Governance, 15.1 (2022), pp. 48–69, https://doi.org/10.1177/09746862221089062.
[24] Lerzan Aksoy and others, ‘Environmental, Social and Governance (ESG) Metrics Do Not Serve Services Customers: A missing Link Between Sustainability Metrics and Customer Perceptions of Social Innovation’, Journal of Service Management, 33.4/5 (2022), pp. 565–77, https://doi.org/10.1108/josm-11-2021-0428.
[25] Wijaya Triwacananingrum and others, ‘Does Business Ethics Disclosure Contribute to ESG Disclosure and ESG Performance on Firm Value?’, Journal of Ecohumanism, 3.4 (2024), pp. 816–33, https://doi.org/10.62754/joe.v3i4.3572.
[26] Muhammad Arif and others, ‘The Impact of Audit Committee Attributes on the Quality and Quantity of Environmental, Social and Governance (ESG) Disclosures’, Corporate Governance, 21.3 (2020), pp. 497–514, https://doi.org/10.1108/cg-06-2020-0243.
[27] Jorden Dye, Murdoch McKinnon, and Connie V d. Byl, ‘Green Gaps: Firm ESG Disclosure and Financial Institutions’ Reporting Requirements’, J Sustain Res, 3.1 (2021), https://doi.org/10.20900/jsr20210006.
[28] Vincent Whitelock, ‘Multidimensional Environmental Social Governance Sustainability Framework: Integration, Using a Purchasing, Operations, and Supply Chain Management Context’, Sustainable Development, 27.5 (2019), pp. 923–31, https://doi.org/10.1002/sd.1951.
[29] Shaharima Juthi and others, ‘Sustainable Finance and Data Analytics: A Systematic Review of Esg Data in Investment Decisions’, Ajbais, 4.04 (2024), pp. 70–88, https://doi.org/10.69593/ajbais.v4i04.130.
[30] Tutut Chusniyah and others, ‘How the ESGs Affect Company Branding and Stakeholder Psychology’, Kne Social Sciences, 2023, https://doi.org/10.18502/kss.v8i19.14387.
[31] So R Park and Kum‐Sik Oh, ‘Integration of ESG Information Into Individual Investors’ Corporate Investment Decisions: Utilizing the UTAUT Framework’, Frontiers in Psychology, 13 (2022), https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.899480.
[32] Albertina P Monteiro, Catarina Cepêda, and Amélia F d. Silva, ‘Does the Workforce and Sustainability Reports Strengthen the Relationship Between Gender Diversity and Sustainability Performance Reporting?’, Administrative Sciences, 14.6 (2024), p. 105, https://doi.org/10.3390/admsci14060105.
[33] Yiting Liu and others, ‘Navigating the Environmental, Social, and Governance (ESG) Landscape: Constructing a Robust and Reliable Scoring Engine – Insights Into Data Source Selection, Indicator Determination, Weighting and Aggregation Techniques, and Validation Processes for Comp’, Open Research Europe, 3 (2023), p. 119, https://doi.org/10.12688/openreseurope.16278.1.
[34] J A A Pambudi and others, ‘Accelerating Indonesia Sustainable Infrastructure Development Through ESG Initiatives in PPP Ecosystem’, Iop Conference Series Earth and Environmental Science, 1266.1 (2023), p. 12020, https://doi.org/10.1088/1755-1315/1266/1/012020.
[35] Tommaso Fornasari and Marco Traversi, ‘The Impact of the CSRD and the ESRS on Non-Financial Disclosure’, Symphonya Emerging Issues in Management, 2024, pp. 117–33, https://doi.org/10.4468/2024.1.07fornasari.traversi.
[36] Mohamed Marie and others, ‘Exploring Environmental, Social and Governance Research in the Wake of COVID‐19: A Bibliometric Analysis of Current Trends and Recommendations for Future Research’, Corporate Social Responsibility and Environmental Management, 31.6 (2024), pp. 6131–49, https://doi.org/10.1002/csr.2909.
[37] Chitra D S Lokuwaduge and Keshara d. Silva, ‘Emerging Corporate Disclosure of Environmental Social and Governance (ESG) Risks: An Australian Study’, Australasian Accounting Business and Finance Journal, 14.2 (2020), pp. 35–50, https://doi.org/10.14453/aabfj.v14i2.4.
[38] Tijani Amara and others, ‘The Relationship Between Corporate Governance and Environmental Social Governance Disclosure: A Case of Euro-Asian Firms’, 2023, https://doi.org/10.57030/23364890.cemj.31.1.29.
[39] Magdalena Indyk, ‘The Importance of the ESG Factors and Their Potential Impact on an Audit of a Financial Statement’, International Business & Economics Studies, 4.3 (2022), p. p1, https://doi.org/10.22158/ibes.v4n3p1.
[40] Pooja Mishra and Tatavarty G Sant, ‘Examine the Level of Environmental, Social and Governance Disclosure in Sustainability Report – A Study of the Indian Banking Sector’, International Journal of Innovation Science, 16.2 (2023), pp. 420–42, https://doi.org/10.1108/ijis-08-2022-0136.
Tell Your Friends
Need legal or tax advice?
Discuss your matter with our lawyers
Facing a tax dispute, a corporate transaction or a business problem? Tell us about it and our team will get back to you.
