
Ilustrasi. [Source: Canva]
Pragmaintegra.com – Penerapan teori permainan (game theory) dalam tata kelola perusahaan telah mendapatkan daya tarik yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, memberikan kerangka kerja yang kuat untuk memahami interaksi strategis di antara berbagai pemangku kepentingan dalam perusahaan. Game theory, yang secara fundamental berakar pada analisis pengambilan keputusan strategis, memberikan wawasan tentang bagaimana berbagai pihak—seperti manajemen, pemegang saham, dan dewan—berinteraksi dalam kondisi konflik dan kerja sama.
Sintesis ini akan mengeksplorasi prinsip-prinsip dasar game theory terkait tata kelola perusahaan, menganalisis perannya dalam berbagai interaksi perusahaan, menyajikan studi kasus dunia nyata, membahas evolusi pendekatan ini, memberikan bukti empiris dampaknya terhadap kinerja perusahaan, dan mengkaji secara kritis keterbatasan dan tantangan penerapan game theory dalam konteks ini.
Prinsip-Prinsip Dasar Teori Permainan (Game Theory) dalam Tata Kelola Perusahaan
Game theory terutama berkaitan dengan interaksi strategis di antara pengambil keputusan yang rasional, di mana hasil untuk setiap peserta tidak hanya bergantung pada tindakan mereka sendiri tetapi juga pada tindakan orang lain. Dalam tata kelola perusahaan, ini berarti memahami bagaimana manajemen, pemegang saham, dan dewan membuat keputusan yang mempengaruhi struktur tata kelola dan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Prinsip-prinsip dasar mencakup konsep seperti keseimbangan Nash (Nash equilibrium), di mana pemain mencapai keadaan di mana tidak ada peserta yang dapat memperoleh keuntungan dengan mengubah strategi mereka sementara yang lain mempertahankan strategi mereka, dan konsep strategi dominan, di mana satu strategi lebih baik dari yang lain terlepas dari apa yang dilakukan lawan.[1]
Dalam konteks tata kelola perusahaan, prinsip-prinsip ini dapat diterapkan untuk menganalisis masalah keagenan (agency problems), di mana kepentingan manajer (agen) mungkin berbeda dari kepentingan pemegang saham (prinsipal). Game theory menyediakan kerangka kerja untuk memodelkan konflik ini dan mengeksplorasi mekanisme seperti kompensasi berbasis kinerja atau pengawasan dewan yang dapat menyelaraskan kepentingan dan mengurangi biaya keagenan.[2]
Selanjutnya, penerapan game theory meluas ke teori pemangku kepentingan (stakeholder theory), yang menekankan pentingnya mempertimbangkan kepentingan semua pihak yang terpengaruh oleh keputusan perusahaan, sehingga meningkatkan legitimasi dan keberlanjutan praktik tata kelola.[3]
Peran Teori Permainan (Game Theory) dalam Menganalisis Interaksi Perusahaan
1. Interaksi Dewan-Manajemen
Game theory dapat menjelaskan dinamika antara dewan direksi dan manajemen. Peran dewan adalah mengawasi manajemen dan memastikan bahwa manajemen bertindak demi kepentingan terbaik pemegang saham. Namun, konflik dapat muncul, terutama ketika manajemen memiliki lebih banyak informasi tentang operasi perusahaan dibandingkan dewan. Model game theory dapat membantu menganalisis interaksi ini, mengungkapkan bagaimana dewan dapat menyusun pengawasan mereka untuk mendorong manajemen bertindak selaras dengan kepentingan pemegang saham.[4]
Misalnya, pengenalan metrik kinerja yang terkait dengan kompensasi eksekutif dapat dilihat sebagai langkah strategis untuk menyelaraskan insentif manajemen dengan pemegang saham, secara efektif menciptakan permainan di mana kedua belah pihak dapat mencapai hasil yang menguntungkan.[5]
2. Hubungan Pemegang Saham-Manajemen
Hubungan antara pemegang saham dan manajemen adalah area penting lainnya di mana game theory dapat diterapkan. Pemegang saham sering menghadapi risiko manajemen yang terlibat dalam perilaku menguntungkan diri sendiri yang tidak memaksimalkan nilai pemegang saham. Game theory menyediakan alat untuk memodelkan interaksi ini, memungkinkan analisis aktivisme pemegang saham dan efektivitas berbagai mekanisme tata kelola, seperti pemungutan suara proksi dan proposal pemegang saham.[6]
Misalnya, kehadiran investor institusional dapat mengubah lanskap strategis, karena investor ini mungkin memiliki sumber daya dan insentif untuk menantang keputusan manajemen, sehingga membentuk ulang dinamika permainan.[7]
3. Konflik Pemangku Kepentingan
Dengan memasukkan perspektif pemangku kepentingan yang lebih luas, game theory juga dapat digunakan untuk menganalisis konflik di antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk karyawan, pelanggan, pemasok, dan masyarakat. Teori pemangku kepentingan berpendapat bahwa perusahaan harus mempertimbangkan kepentingan semua pemangku kepentingan, bukan hanya pemegang saham. Model game theory dapat membantu mengidentifikasi strategi yang menyeimbangkan kepentingan yang bersaing ini, mengarah pada praktik perusahaan yang lebih berkelanjutan.[8]
Misalnya, perusahaan yang terlibat dalam inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) dapat dilihat melalui lensa game theory, di mana manfaat meningkatkan reputasi dan kepercayaan pemangku kepentingan dapat mengimbangi biaya inisiatif tersebut, sehingga menciptakan skenario yang menguntungkan semua pihak.[9]
4. Proses Pengambilan Keputusan Strategis
Game theory juga memainkan peran penting dalam proses pengambilan keputusan strategis dalam perusahaan. Keputusan mengenai merger dan akuisisi, masuk pasar, dan strategi kompetitif dapat dimodelkan sebagai permainan di mana perusahaan harus mengantisipasi tindakan pesaing. Dengan menerapkan prinsip-prinsip game theory, perusahaan dapat mengembangkan strategi yang memperhitungkan potensi respons dari pesaing, sehingga meningkatkan posisi kompetitif mereka.[10]
Misalnya, penggunaan strategis penetapan harga, diferensiasi produk, dan posisi pasar dapat dianalisis menggunakan game theory untuk memprediksi hasil dan mengoptimalkan pengambilan keputusan.[11]
Studi Kasus Dunia Nyata
Beberapa studi kasus dunia nyata mengilustrasikan keberhasilan penerapan prinsip-prinsip game theory dalam tata kelola perusahaan. Salah satu contoh yang menonjol adalah kasus aktivisme pemegang saham di sektor teknologi, di mana investor institusional telah memanfaatkan kekuatan suara mereka untuk mempengaruhi keputusan manajemen. Dinamika ini dapat dimodelkan sebagai permainan di mana pemegang saham memberikan tekanan pada manajemen untuk mengadopsi kebijakan yang lebih ramah pemegang saham, yang mengarah pada perubahan dalam struktur tata kelola yang meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan.[12]
Contoh lainnya adalah aliansi strategis yang dibentuk antara perusahaan dalam industri yang kompetitif, di mana game theory membantu menjelaskan bagaimana perusahaan menegosiasikan persyaratan yang menguntungkan kedua belah pihak sambil mengurangi risiko yang terkait dengan persaingan.[13]
Evolusi Pendekatan Teori Permainan (Game Theory) dalam Tata Kelola Perusahaan Modern
Evolusi pendekatan game theory dalam tata kelola perusahaan mencerminkan pengakuan yang semakin besar terhadap kompleksitas yang terlibat dalam pengambilan keputusan perusahaan. Selama dekade terakhir, telah terjadi pergeseran menuju pengintegrasian wawasan perilaku dengan game theory tradisional, mengakui bahwa pengambil keputusan mungkin tidak selalu bertindak secara rasional. Evolusi ini telah mengarah pada pengembangan model yang lebih bernuansa yang mempertimbangkan faktor psikologis dan rasionalitas terbatas (bounded rationality), sehingga meningkatkan penerapan game theory dalam skenario tata kelola perusahaan dunia nyata.[14]
Selain itu, munculnya platform digital dan ekonomi gig telah memperkenalkan dimensi baru dalam tata kelola perusahaan, yang mengharuskan adaptasi model game theory untuk memperhitungkan tren yang muncul ini.[15]
Bukti Empiris dari Strategi Tata Kelola Berbasis Teori Permainan (Game Theory)
Studi empiris telah memberikan bukti dampak positif dari strategi tata kelola berbasis game theory terhadap kinerja perusahaan. Misalnya, penelitian telah menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan mekanisme tata kelola yang kuat, yang diinformasikan oleh prinsip-prinsip game theory, cenderung menunjukkan tingkat kinerja keuangan yang lebih tinggi dan biaya keagenan yang lebih rendah.[16]
Selanjutnya, studi telah menunjukkan bahwa perusahaan yang secara aktif terlibat dengan pemangku kepentingan dan memasukkan umpan balik mereka ke dalam proses pengambilan keputusan lebih mungkin mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.[17]
Temuan ini menggarisbawahi pentingnya penerapan game theory untuk meningkatkan praktik tata kelola dan mendorong keberhasilan perusahaan.
Analisis Kritis terhadap Keterbatasan dan Tantangan
Meskipun memiliki kekuatan, penerapan game theory dalam tata kelola perusahaan tidak lepas dari keterbatasan dan tantangan. Salah satu tantangan signifikan adalah kompleksitas dalam memodelkan skenario dunia nyata secara akurat, karena asumsi yang mendasari model game theory mungkin tidak selalu berlaku dalam praktik. Misalnya, asumsi rasionalitas di antara semua pemain bisa menjadi problematik, karena faktor emosional dan psikologis sering mempengaruhi pengambilan keputusan.
Selain itu, sifat dinamis lingkungan perusahaan dapat menyebabkan strategi yang berubah dengan cepat yang sulit ditangkap dalam model permainan statis.[18]
Lebih lanjut, ketergantungan pada data kuantitatif untuk pemodelan dapat mengabaikan faktor kualitatif yang sama pentingnya dalam memahami dinamika tata kelola perusahaan.[19]
Sebagai kesimpulan, penerapan game theory dalam tata kelola perusahaan menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk menganalisis interaksi strategis di antara berbagai pemangku kepentingan. Dengan memahami prinsip-prinsip dasar game theory dan perannya dalam interaksi dewan-manajemen, hubungan pemegang saham-manajemen, konflik pemangku kepentingan, dan proses pengambilan keputusan strategis, perusahaan dapat meningkatkan praktik tata kelola mereka.
Studi kasus dunia nyata dan bukti empiris lebih lanjut menunjukkan dampak positif dari strategi berbasis game theory terhadap kinerja perusahaan. Namun, penting untuk mengakui keterbatasan dan tantangan yang terkait dengan pendekatan ini, yang membutuhkan penelitian dan adaptasi berkelanjutan untuk memastikan efektivitasnya dalam lanskap perusahaan yang terus berkembang.[*]
* Artikel ini merupakan bagian dari ‘Learning Module for Lawyers: Corporate Law‘ yang disusun oleh Tim Penulis Firma Pragma Integra.
—
Referensi
[1] Wenzhe Chen and others, ‘The Mystery of Choice of Equity Incentive Model: Based on the Game Theory Analysis Between Shareholders and Top Executives’, Nankai Business Review International, 14.3 (2023), pp. 532–55, doi:10.1108/nbri-11-2022-0111.
[2] Arıkan T Saygılı, Ebru Saygılı, and Alina Țaran, ‘The Effects of Corporate Governance Practices on Firm-Level Financial Performance: Evidence From Borsa Istanbul Xkury Companies’, Journal of Business Economics and Management, 22.4 (2021), pp. 884–904, doi:10.3846/jbem.2021.14440.
[3] Daeheon Choi and others, ‘Does Sustainable Corporate Governance Enhance Accounting Practice? Evidence From the Korean Market’, Sustainability, 12.7 (2020), p. 2585, doi:10.3390/su12072585.
[4] Chen and others, ‘The Mystery of Choice of Equity Incentive Model: Based on the Game Theory Analysis Between Shareholders and Top Executives’.
[5] Saygılı, Saygılı, and Țaran, ‘The Effects of Corporate Governance Practices on Firm-Level Financial Performance: Evidence From Borsa Istanbul Xkury Companies’.
[6] Navajyoti Samanta, ‘Convergence to Shareholder Primacy Corporate Governance: Evidence From a Leximetric Analysis of the Evolution of Corporate Governance Regulations in 21 Countries, 1995-2014’, Corporate Governance, 19.5 (2019), pp. 849–83, doi:10.1108/cg-07-2018-0249.
[7] Shuaib Ali and others, ‘Does Financial Transparency Substitute Corporate Governance to Improve Stock Liquidity? Evidence From Emerging Market of Pakistan’, Frontiers in Psychology, 13 (2022), doi:10.3389/fpsyg.2022.1003081.
[8] ‘The Role of Stakeholders in Corporate Governance: The Reverse Path of Stakeholders’ Participation in Corporate Governance’, Journal of Social Science and Humanities, 4.11 (2022), doi:10.53469/jssh.2022.4(11).27.
[9] Wenfang Lin, ‘Governance of Corporate Social Responsibility: A Platform Ecosystem Perspective’, Management Decision, 62.12 (2024), pp. 3782–3816, doi:10.1108/md-10-2023-1843.
[10] Yujing Si, ‘Research on Green Design Strategy of Electrical and Electronic Manufacturing Enterprises Based on the Perspective of Tripartite Evolutionary Game’, Sustainability, 16.7 (2024), p. 2884, doi:10.3390/su16072884.
[11] Chen and others, ‘The Mystery of Choice of Equity Incentive Model: Based on the Game Theory Analysis Between Shareholders and Top Executives’.
[12] Ali and others, ‘Does Financial Transparency Substitute Corporate Governance to Improve Stock Liquidity? Evidence From Emerging Market of Pakistan’.
[13] Samanta, ‘Convergence to Shareholder Primacy Corporate Governance: Evidence From a Leximetric Analysis of the Evolution of Corporate Governance Regulations in 21 Countries, 1995-2014’.
[14] Chen and others, ‘The Mystery of Choice of Equity Incentive Model: Based on the Game Theory Analysis Between Shareholders and Top Executives’.
[15] Lin, ‘Governance of Corporate Social Responsibility: A Platform Ecosystem Perspective’.
[16] Saygılı, Saygılı, and Țaran, ‘The Effects of Corporate Governance Practices on Firm-Level Financial Performance: Evidence From Borsa Istanbul Xkury Companies’.
[17] ‘The Role of Stakeholders in Corporate Governance: The Reverse Path of Stakeholders’ Participation in Corporate Governance’.
[18] Chen and others, ‘The Mystery of Choice of Equity Incentive Model: Based on the Game Theory Analysis Between Shareholders and Top Executives’.
[19] Rahmadi Tektona, ‘The Concept of State Owned Corporation Subsidiary Governance Incompatible With the Core Business’, International Journal of Social Service and Research, 3.2 (2023), pp. 431–42, doi:10.46799/ijssr.v3i2.236.