Tata Kelola Berbasis Pengetahuan (Knowledge-Based Governance): Memaksimalkan Modal Intelektual untuk Kesuksesan Perusahaan Modern

Ilustrasi. [Source: Canva]

Pragmaintegra.com – Tata kelola berbasis pengetahuan (Knowledge-Based Governance) muncul sebagai dimensi penting dalam tata kelola perusahaan modern, yang secara signifikan berbeda dengan teori tata kelola tradisional yang didasarkan pada hierarki struktural yang kaku dan aspek prosedural manajemen.

Secara fundamental, Knowledge-Based Governance mengintegrasikan prinsip-prinsip manajemen pengetahuan ke dalam kerangka tata kelola, sehingga menekankan pentingnya pengetahuan secara strategis sebagai sumber daya kritis yang mendorong pengambilan keputusan dan kinerja organisasi.

Tidak seperti teori klasik—seperti teori keagenan atau teori biaya transaksiKnowledge-Based Governance cenderung mengarah pada pendekatan adaptif dan terdesentralisasi, di mana berbagi pengetahuan dan pembelajaran kolaboratif sangat penting.

Knowledge-Based Governance beroperasi dengan premis bahwa pengetahuan, bukan hanya mekanisme kontrol, mendorong organisasi menuju inovasi dan adaptabilitas pasar. Ini mengakui sifat dinamis dan fleksibel dari pertukaran informasi dalam organisasi, yang mendorong lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran, adaptabilitas, dan transformasi. [1] [2]

Perbedaan antara Knowledge-Based Governance dan tata kelola tradisional terletak pada fokusnya pada kecerdasan kolektif, keterlibatan pemangku kepentingan, dan sistem sosio-teknis di mana bisnis beroperasi. Perspektif ini mendorong perusahaan untuk menumbuhkan ekosistem yang memprioritaskan pembuatan dan berbagi pengetahuan tidak hanya secara internal di antara karyawan tetapi juga secara eksternal dengan pelanggan, pemasok, dan pemangku kepentingan lainnya.[3]

Perkembangan Historis

Evolusi teori tata kelola berbasis pengetahuan dapat ditelusuri kembali ke pengakuan yang lebih luas tentang pengetahuan sebagai aset kritis dalam konteks organisasi kontemporer. Kontributor utama termasuk penulis yang menegaskan bahwa manajemen pengetahuan adalah praktik penting untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dalam lanskap bisnis yang berubah dengan cepat.

Transisi dari era pra-informasi ke paradigma berpusat pada pengetahuan menandai titik balik yang signifikan. Karya-karya terkemuka menekankan pergeseran dari pandangan berbasis sumber daya ke perspektif berpusat pada pengetahuan, menyelaraskan strategi perusahaan dengan kompleksitas dan nuansa pertukaran informasi.

Ilmuwan seperti Nonaka dan Takeuchi telah meletakkan prinsip-prinsip dasar mengenai penciptaan pengetahuan, menekankan proses-proses di mana organisasi menghasilkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru.[4]

Selanjutnya, penelitian telah berkembang seputar implikasi transformasi digital untuk mekanisme tata kelola, menyoroti bagaimana teknologi informasi memfasilitasi Knowledge-Based Governance. Dengan mengintegrasikan kemajuan teknologi ke dalam kerangka tata kelola, perusahaan dapat meningkatkan daya tanggap dan keterlibatan mereka, seperti yang terlihat di berbagai sektor termasuk kesehatan, pendidikan, dan teknologi informasi.[5]

Prinsip Inti Tata Kelola Berbasis Pengetahuan

Tata kelola berbasis pengetahuan beroperasi berdasarkan beberapa prinsip inti yang meningkatkan kemampuan organisasi:

  1. Penciptaan Pengetahuan dan Inovasi: Organisasi harus menumbuhkan lingkungan di mana pembuatan pengetahuan diprioritaskan. Ini melibatkan mendorong eksperimentasi dan belajar dari kegagalan sebanyak kesuksesan. Sistem harus dirancang untuk memanfaatkan kecerdasan kolektif dan inovasi dari semua tingkatan organisasi.[6]
  2. Pembelajaran Adaptif: Knowledge-Based Governance menekankan kebutuhan organisasi untuk menjadi entitas pembelajaran, di mana proses pembelajaran adaptif tertanam dalam budaya organisasi. Prinsip ini berfokus pada peningkatan berkelanjutan dan strategi responsif dalam menghadapi kondisi pasar yang terus berkembang.[7]
  3. Jaringan Kolaboratif: Organisasi modern saling terhubung, memerlukan jaringan kolaboratif yang meningkatkan berbagi pengetahuan di antara pemangku kepentingan. Ini melibatkan melampaui batas-batas tradisional dan melibatkan berbagai mitra—pelanggan, pemasok, dan bahkan pesaing—dalam menciptakan nilai bersama melalui aset pengetahuan bersama.[8]
  4. Desentralisasi Pengambilan Keputusan: Berbeda dengan struktur komando dan kontrol hierarkis, Knowledge-Based Governance mempromosikan kerangka pengambilan keputusan terdesentralisasi. Pemberdayaan tim di berbagai tingkat organisasi ini memfasilitasi respons yang lebih cepat terhadap peluang dan ancaman yang muncul berdasarkan pengetahuan real-time. [9]
  5. Integrasi Teknologi: Konvergensi manajemen pengetahuan dan teknologi informasi sangat penting untuk Knowledge-Based Governance. Memanfaatkan alat digital dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan berbagi dan pemrosesan pengetahuan, sehingga mengubah data menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti. [10] [11]

Mekanisme Implementasi dalam Struktur Perusahaan

Implementasi tata kelola berbasis pengetahuan dalam kerangka perusahaan memerlukan pendekatan sistematis yang menyelaraskan struktur tata kelola dengan strategi manajemen pengetahuan. Perusahaan perlu membentuk tim khusus yang berfokus pada praktik manajemen pengetahuan dan tata kelola. Teknologi memainkan peran penting di sini; platform digital terintegrasi memastikan aliran pengetahuan yang lancar di seluruh departemen.

Selain itu, organisasi harus fokus pada penyertaan prinsip-prinsip Knowledge-Based Governance ke dalam prosedur operasi standar mereka. Ini bisa melibatkan mendefinisikan ulang peran profesional untuk memasukkan tanggung jawab berbagi pengetahuan, menciptakan insentif bagi karyawan untuk berkontribusi pada inisiatif manajemen pengetahuan, dan mengembangkan program pelatihan lanjutan yang berpusat pada praktik Knowledge-Based Governance.[12]

Selain itu, ukuran kinerja harus berkembang untuk memperhitungkan aspek kualitatif dari penciptaan dan berbagi pengetahuan, mengevaluasi tidak hanya output tetapi juga proses yang memfasilitasi hasil ini. Sistem-sistem ini harus tetap fleksibel untuk beradaptasi dengan kondisi yang berubah dan umpan balik dari pemangku kepentingan.[13] [14]

Peran Manajemen Pengetahuan

Manajemen pengetahuan (Knowledge Management) berfungsi sebagai tulang punggung Knowledge-Based Governance, memfasilitasi proses sistematis identifikasi, pengambilan, dan pemanfaatan pengetahuan untuk meningkatkan kinerja dan tata kelola organisasi. Strategi Knowledge Management yang efektif memastikan bahwa pengetahuan mudah diakses, mendorong lingkungan di mana informasi digunakan untuk meningkatkan proses pengambilan keputusan.[15]

Selanjutnya, implementasi Knowledge-Based Governance yang sukses memerlukan kepemimpinan yang kuat yang menjadi pendukung inisiatif Knowledge Management. Kepemimpinan tidak hanya harus mendukung Knowledge Management sebagai prioritas strategis tetapi juga memodelkan perilaku berbagi pengetahuan dan menumbuhkan budaya yang menghargai pembelajaran dan kolaborasi.[16] Penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi kuat antara praktik Knowledge Management yang efektif dan peningkatan hasil organisasi.[17]

Hubungan Antara Tata Kelola Berbasis Pengetahuan dan Modal Intelektual Perusahaan

Modal intelektual—yang terdiri dari modal manusia, struktural, dan relasional—bertindak sebagai pilar penting dalam kerangka Knowledge-Based Governance. Organisasi yang memanfaatkan Knowledge-Based Governance secara efektif mengakui modal intelektual sebagai aset strategis yang mendorong inovasi dan keunggulan kompetitif. Sinergi antara Knowledge-Based Governance dan modal intelektual didukung oleh kecerdasan kolektif yang muncul dari tenaga kerja berpengetahuan, proses yang efisien, dan hubungan pemangku kepentingan yang kuat.

Selain itu, fokus yang jelas pada pengelolaan modal intelektual dalam kerangka Knowledge-Based Governance mengarah pada kinerja organisasi yang lebih kaya. Tata kelola berbasis pengetahuan mendukung dokumentasi sistematis modal manusia dan relasional, tidak hanya untuk melindungi tetapi juga untuk meningkatkannya melalui inisiatif pengembangan yang ditargetkan dan keterlibatan kolaboratif.[18] Modal intelektual yang dihasilkan dengan demikian menjadi pendorong berkelanjutan untuk penciptaan nilai jangka panjang dan ketahanan organisasi.

Tantangan dalam Menerapkan Tata Kelola Berbasis Pengetahuan

Meskipun memiliki banyak manfaat, penerapan tata kelola berbasis pengetahuan menghadapi berbagai tantangan yang harus diatasi organisasi. Penghalang signifikan adalah resistensi terhadap perubahan dalam budaya perusahaan yang mungkin cenderung ke arah kekakuan dan kepatuhan daripada fleksibilitas dan keterbukaan. Mengatasi inersia ini memerlukan praktik manajemen perubahan strategis, menekankan pentingnya keselarasan kepemimpinan dan transformasi budaya.[19]

Selain itu, organisasi perlu bergulat dengan kompleksitas berbagi pengetahuan, terutama mengenai kepercayaan dan keamanan data. Kebutuhan akan platform transparan dan aman untuk memfasilitasi berbagi pengetahuan sangat penting. Jika karyawan menganggap praktik berbagi pengetahuan sebagai tidak aman atau tidak terjamin, kesediaan mereka untuk terlibat dalam praktik ini berkurang secara signifikan.[20]

Akhirnya, mengukur efektivitas praktik Knowledge-Based Governance tetap menjadi masalah yang diperdebatkan. Mengembangkan metrik yang menangkap nilai pengetahuan sebagai aset dan dampaknya terhadap kinerja organisasi memerlukan pendekatan inovatif dan pergeseran dari metrik evaluasi tradisional yang hanya berfokus pada hasil keuangan.[21]

Studi Kasus Implementasi yang Berhasil

Kasus  Siemens AG

Siemens AG menyajikan kasus yang menarik dalam menerapkan Knowledge-Based Governance dengan memanfaatkan kekuatan platform digital untuk berbagi pengetahuan di seluruh operasi globalnya. Perusahaan telah membangun budaya pembelajaran berkelanjutan yang difasilitasi oleh sistem online di mana karyawan dapat berbagi wawasan dan praktik terbaik secara real-time. Inisiatif ini telah memungkinkan Siemens untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mendorong inovasi melalui pemecahan masalah kolaboratif di antara tim yang beragam.[22]

Kasus Google Inc.

Google mewujudkan Knowledge-Based Governance dengan memprioritaskan budaya organisasi terbuka yang secara aktif mendorong berbagi pengetahuan dan keterlibatan karyawan.

Sistem internal mereka—seperti Google Docs—memungkinkan manajemen proyek kolaboratif, memungkinkan karyawan untuk mengakses dan berbagi informasi dengan mudah. Struktur ini telah memperkuat kapasitas inovasi dan adaptabilitas Google dalam lanskap teknologi yang terus berkembang, sehingga mendorong keunggulan kompetitif dan kinerja yang berkelanjutan.[23]

Implementasi di Era Digital dan Transformasi Teknologi

Era digital telah menjadi katalisator evolusi tata kelola berbasis pengetahuan, secara signifikan mengubah bagaimana organisasi mengelola pengetahuan dan menerapkan kerangka tata kelola. Alat digital seperti AI, big data, dan komputasi awan telah mendefinisikan ulang metode tradisional penyimpanan dan pengambilan pengetahuan, membuat informasi lebih mudah diakses dan dapat ditindaklanjuti.[24] [25]

Selain itu, media sosial dan teknologi komunikasi telah membentuk kembali keterlibatan pemangku kepentingan, memfasilitasi pendekatan tata kelola yang lebih inklusif. Organisasi sekarang memanfaatkan jalur digital ini untuk menyebarkan informasi, mengumpulkan umpan balik, dan mendorong kemitraan kolaboratif lebih efektif dari sebelumnya. Konvergensi alat digital dan prinsip-prinsip Knowledge-Based Governance sangat penting bagi organisasi yang bertujuan untuk berkembang dalam lanskap modern yang kompetitif, memungkinkan mereka untuk mengelola pengetahuan dengan fasih dan merespon secara dinamis terhadap perubahan kondisi.[26]

Dampak terhadap Kinerja Perusahaan dan Penciptaan Nilai Jangka Panjang

Kerangka tata kelola berbasis pengetahuan yang kuat berkorelasi kuat dengan peningkatan kinerja organisasi dan penciptaan nilai jangka panjang. Implementasi Knowledge-Based Governance yang efektif memfasilitasi pengambilan keputusan strategis yang lebih baik, menyelaraskan sumber daya lebih efektif, dan memungkinkan perusahaan untuk terus berinovasi.

Studi menunjukkan bahwa organisasi yang mempraktikkan Knowledge-Based Governance melaporkan tingkat keterlibatan karyawan yang lebih tinggi, peningkatan kepuasan pelanggan, dan peningkatan hasil inovasi—semua indikator kritis keberhasilan pasar dan keberlanjutan.[27]

Selain itu, perusahaan yang memanfaatkan prinsip-prinsip Knowledge-Based Governance cenderung mencapai adaptabilitas yang unggul terhadap perubahan pasar dan gangguan, memungkinkan daya saing yang berkelanjutan dari waktu ke waktu.

Dalam lingkungan bisnis yang ditandai dengan kemajuan teknologi yang cepat dan pergeseran preferensi konsumen, organisasi dengan kerangka Knowledge-Based Governance yang efektif berada dalam posisi yang lebih baik untuk menavigasi tantangan dan memanfaatkan peluang baru.[28]

Perbandingan Lintas Yurisdiksi

Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, praktik tata kelola berbasis pengetahuan telah diadopsi secara luas dalam organisasi yang berpusat pada teknologi, terutama di Silicon Valley. Fokus pada inovasi, pembelajaran adaptif, dan integrasi teknologi sejalan dengan prinsip-prinsip Knowledge-Based Governance, mendorong ekosistem yang dinamis dari startup dan raksasa teknologi mapan yang mendorong praktik berbagi pengetahuan.[29]

Jerman

Sektor manufaktur Jerman menunjukkan keselarasan yang kuat dengan prinsip-prinsip Knowledge-Based Governance, terutama dalam komitmennya terhadap pendidikan kejuruan dan pengembangan karyawan berkelanjutan. Perusahaan Jerman menekankan berbagi pengetahuan antara saluran formal dan informal, mendorong inovasi dan efisiensi dalam operasi mereka.[30]

Jepang

Di Jepang, implementasi Knowledge-Based Governance tercermin dalam praktik “Kaizen“, yang berarti perbaikan berkelanjutan. Kecenderungan budaya ini menuju pembelajaran iteratif dan partisipasi kolektif beresonansi erat dengan cita-cita Knowledge-Based Governance, mengarah pada pembentukan dan retensi pengetahuan yang efektif dalam perusahaan .[31]

Kerangka Hukum dan Regulasi

Kerangka hukum dan regulasi yang mendukung sangat penting untuk mengimplementasikan praktik tata kelola berbasis pengetahuan secara efektif. Banyak yurisdiksi mengakui manajemen pengetahuan sebagai disiplin yang diakui secara hukum, menekankan pentingnya dalam proses pengambilan keputusan dan tata kelola organisasi.[32]

Legislasi yang mempromosikan transparansi dalam berbagi pengetahuan, perlindungan data, dan privasi meningkatkan kredibilitas dan efektivitas Knowledge-Based Governance. Organisasi harus menavigasi lanskap regulasi yang kompleks—termasuk GDPR di Eropa, HIPAA di AS, dan persyaratan kerahasiaan di seluruh dunia—untuk memastikan praktik berbagi pengetahuan mereka mematuhi standar hukum sambil mempromosikan budaya terbuka.[33]

Tren Masa Depan dalam Tata Kelola Berbasis Pengetahuan

Seiring kemajuan teknologi dan globalisasi terus membentuk kembali lanskap perusahaan, tata kelola berbasis pengetahuan siap untuk berkembang lebih jauh. Tren masa depan kemungkinan termasuk peningkatan integrasi kecerdasan buatan dalam sistem manajemen pengetahuan dan kemunculan blockchain untuk berbagi pengetahuan yang aman dan transparan.

Selain itu, meningkatnya pentingnya praktik keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) dalam kerangka tata kelola akan memerlukan adaptasi berkelanjutan dari pendekatan Knowledge-Based Governance, mendorong perusahaan untuk memprioritaskan manajemen pengetahuan etis yang selaras dengan tujuan masyarakat yang lebih luas.[34]

Baca juga: Teori Pemrosesan Informasi (Information Processing Theory) dalam Konteks Teori Tata Kelola Perusahaan Modern

Rekomendasi Praktis untuk Pengacara Perusahaan

Pengacara perusahaan memainkan peran penting dalam membimbing organisasi dalam penerapan tata kelola berbasis pengetahuan. Mereka harus mengadvokasi:

  1. Pembentukan kerangka berbagi pengetahuan komprehensif yang selaras dengan persyaratan hukum dan regulasi.
  2. Program pelatihan yang berfokus pada aspek hukum manajemen pengetahuan, memastikan kepatuhan dan perlindungan kekayaan intelektual.
  3. Kolaborasi antar departemen untuk menyertakan prinsip-prinsip Knowledge-Based Governance dalam strategi perusahaan, memastikan pendekatan holistik terhadap tata kelola.
  4. Pengembangan kebijakan yang jelas mengenai berbagi data dan penggunaan alat manajemen pengetahuan, memprioritaskan keamanan dan kepercayaan karyawan.[35]

Dengan memasukkan rekomendasi ini, pengacara perusahaan dapat berkontribusi secara signifikan terhadap keberhasilan implementasi praktik tata kelola berbasis pengetahuan, sehingga meningkatkan ketahanan dan kinerja organisasi di era digital.[*]

* Artikel ini merupakan bagian dari ‘Learning Module for Lawyers: Corporate Law‘ yang disusun oleh Tim Penulis Firma Pragma Integra.

Referensi

[1] Shaobo Wei, Xu Dabao, and Hua Liu, ‘The Effects of Information Technology Capability and Knowledge Base on Digital Innovation: The Moderating Role of Institutional Environments’, European Journal of Innovation Management, 25.3 (2021), pp. 720–40, doi:10.1108/ejim-08-2020-0324.

[2] Natalie L James, ‘The Critical Issues of Knowledge Management and Sharing Across Service Agencies.’, European Journal of Information and Knowledge Management, 1.1 (2022), pp. 33–42, doi:10.47941/ejikm.853.

[3] James, ‘The Critical Issues of Knowledge Management and Sharing Across Service Agencies.’

[4] Špela Vintar and Uroš Stepišnik, ‘TermFrame: A Systematic Approach to Karst Terminology’, Dela, 54, 2021, pp. 149–67, doi:10.4312/dela.54.149-167.

[5] Dapeng Wu and others, ‘Vision and Challenges for Knowledge Centric Networking’, Ieee Wireless Communications, 26.4 (2019), pp. 117–23, doi:10.1109/mwc.2019.1800323.

[6] Mai Nguyen and others, ‘Motivation and Knowledge Sharing: A Meta-Analysis of Main and Moderating Effects’, Journal of Knowledge Management, 23.5 (2019), pp. 998–1016, doi:10.1108/jkm-01-2019-0029.

[7] Ruth Puttick, Lisa M Fiedler, and Jennifer Park, ‘Diffusion of Data-Driven Practices: How the Opinion Leading U.S. Cities Are Advancing the Use of Data in Local Government’, State and Local Government Review, 54.1 (2022), pp. 52–67, doi:10.1177/0160323×221088017.

[8] Diana Dushkova and Dagmar Haase, ‘Methodology for Development of a Data and Knowledge Base for Learning From Existing Nature-Based Solutions in Europe: The CONNECTING Nature Project’, Methodsx, 7 (2020), p. 101096, doi:10.1016/j.mex.2020.101096.

[9] Daniel L Chang and others, ‘Knowledge-Based, Smart and Sustainable Cities: A Provocation for a Conceptual Framework’, Journal of Open Innovation Technology Market and Complexity, 4.1 (2018), pp. 1–17, doi:10.1186/s40852-018-0087-2.

[10] Pragati Rawat, ‘A Systematic Review of Multiple Terminologies for ICT in Government: A Mesh of Concentric and Overlapping Circles’, Bulletin of Science Technology & Society, 40.1–2 (2020), pp. 3–14, doi:10.1177/0270467620980996.

[11] Jing Zhou and Li Si, ‘Key Factors of Knowledge Base Adoption in Chinese Local Governments: Based on a <scp>Third‐Tier</Scp> City’, Proceedings of the Association for Information Science and Technology, 60.1 (2023), pp. 1227–29, doi:10.1002/pra2.1000.

[12] Fang Wang and others, ‘From Data to Action: Leveraging Open Data to Drive <scp>Knowledge‐Based</Scp> Intelligent Governance’, Proceedings of the Association for Information Science and Technology, 60.1 (2023), pp. 845–49, doi:10.1002/pra2.875.

[13] Mark Atkins, ‘Two Approaches Toward Graphical Definitions of Knowledge and Wisdom’, 2020, doi:10.5121/csit.2020.100205.

[14] Vephkhvia Grigalashvili, ‘Conceptual Dimensions of Electronic Government and Electronic Governance in the Domain of Digital Democracy’, International Journal of Innovative Technologies in Economy, 1(37), 2022, doi:10.31435/rsglobal_ijite/30032022/7753.

[15] Marylène Gagné and others, ‘Different Motivations for Knowledge Sharing and Hiding: The Role of Motivating Work Design’, Journal of Organizational Behavior, 40.7 (2019), pp. 783–99, doi:10.1002/job.2364.

[16] Merle Jacob and Tomas Hellström, ‘Epistemic Governance and the Conditions for Knowledge Production in HER Institutions’, Studies in Higher Education, 43.10 (2018), pp. 1711–17, doi:10.1080/03075079.2018.1520413.

[17] İmran Ali, Ata U Musawir, and Murad Ali, ‘Impact of Knowledge Sharing and Absorptive Capacity on Project Performance: The Moderating Role of Social Processes’, Journal of Knowledge Management, 22.2 (2018), pp. 453–77, doi:10.1108/jkm-10-2016-0449.

[18] Niilo Kauppi, ‘The Global Ranking Game: Narrowing Academic Excellence Through Numerical Objectification’, Studies in Higher Education, 43.10 (2018), pp. 1750–62, doi:10.1080/03075079.2018.1520416.

[19] Vintar and Stepišnik, ‘TermFrame: A Systematic Approach to Karst Terminology’.

[20] Wang and others, ‘From Data to Action: Leveraging Open Data to Drive <scp>Knowledge‐Based</Scp> Intelligent Governance’.

[21] Jacob and Hellström, ‘Epistemic Governance and the Conditions for Knowledge Production in HER Institutions’.

[22] Haoran Pang, ‘Discussing “Tacit Knowledge” Again’, Journal of Education Humanities and Social Sciences, 14 (2023), pp. 65–70, doi:10.54097/ehss.v14i.8798.

[23] Wenjuan Li, ‘The Role of Trust and Risk in Citizens’ E-Government Services Adoption: A Perspective of the Extended UTAUT Model’, Sustainability, 13.14 (2021), p. 7671, doi:10.3390/su13147671.

[24] Rawat, ‘A Systematic Review of Multiple Terminologies for ICT in Government: A Mesh of Concentric and Overlapping Circles’.

[25] Zhou and Si, ‘Key Factors of Knowledge Base Adoption in Chinese Local Governments: Based on a <scp>Third‐Tier</Scp> City’.

[26] Vintar and Stepišnik, ‘TermFrame: A Systematic Approach to Karst Terminology’.

[27] Saeed Shahsavari and S M A Boutorabi, ‘Innovative Development of Borchers Remarks on the Second Law of Thermodynamics Using Quasi-Statistical Approach to the Entropy’, Moj Applied Bionics and Biomechanics, 7.1 (2023), pp. 83–86, doi:10.15406/mojabb.2023.07.00179.

[28] Atkins, ‘Two Approaches Toward Graphical Definitions of Knowledge and Wisdom’.

[29] Puttick, Fiedler, and Park, ‘Diffusion of Data-Driven Practices: How the Opinion Leading U.S. Cities Are Advancing the Use of Data in Local Government’.

[30] Wei, Dabao, and Liu, ‘The Effects of Information Technology Capability and Knowledge Base on Digital Innovation: The Moderating Role of Institutional Environments’.

[31] Michael Scott, ‘Knowledge of Governance as Knowledge for Governance: Spatialized Techniques of Neutralization’, 2020, pp. 51–67, doi:10.1007/978-3-030-47150-7_3.

[32] Kauppi, ‘The Global Ranking Game: Narrowing Academic Excellence Through Numerical Objectification’.

[33] Ali, Musawir, and Ali, ‘Impact of Knowledge Sharing and Absorptive Capacity on Project Performance: The Moderating Role of Social Processes’.

[34] Rawat, ‘A Systematic Review of Multiple Terminologies for ICT in Government: A Mesh of Concentric and Overlapping Circles’.

[35] Jacob and Hellström, ‘Epistemic Governance and the Conditions for Knowledge Production in HER Institutions’.

Tell Your Friends
Avatar
Pragma Integra is a law firm that combines deep expertise in taxation, corporate and business law, and business development.

Leave A Comment

Integrated Legal & Business Solutions

Have Tax and Business Problems? Let's Solve Them Together

From complex tax disputes to critical corporate decisions, Pragma Integra is here to guide you with trusted expertise and strategic solutions.